29 C
Indonesia
Saturday, December 5, 2020
Home Berita Internasional Taktik Tiki-Taka Tim Nasional Spanyol

Taktik Tiki-Taka Tim Nasional Spanyol

Tentu bagi pecinta bola sudah mengetahui daam sepakbola, memiliki banyak taktik yang di gunakan oleh pelatih. Taktik tersebut di gunakan untuk bertempur dengan lawan, selain kemampuan fisik dan bakat yang di miliki oleh pemain-pemain, taktik merupakan strategi paling fundamental dalam sepakbola. Sebut saja Taktik Tiki-Taka atau bola bola pendek dipadukan dengan operan cepan indirect yang tentu saja tim akan menguasai jalannya pertandingan. Taktik Tiki-Taka biasanya selalu bersebrangan dengan taktik Total Futboll atau bola bola panjang seperti yang di perankan oleh Juergen Klopp di Liverpool.

Taktik tiki-taka dianggap sebagai ciri khas tim nasional spanyol dalam menaklukan dunia. Dengan taktik ini La Furia Roja mampu memenangkan beberapa gelaran kompetisi yang bergengsi. Tahun 2008 taktik tiki-taka dengan memainkan bola cepat untuk membongkar pertahan lawan baru di sadari oleh pelatih tim nasional Spanyol kala itu karena postur tubuh tim nasional Spanyol yang berbadan agak kecil yang membuat mereka selalu kalah dalam duel udara.

Luis Aragones pelatih yang menyadari akan hal itu langsung menerapkan taktik penguasaan bola dengan cepan serta kreatif untuk membongkar pertahanan lawan. Terbukti dengan taktik ini Spanyol keluar sebagai juara Piala Eropa 2008 dengan catatan yang apik, menang 5 kali dan kalah sekali. Hingga akhirnya tim nasional Spanyol dapat buka puasa gelar piala eropa tersebut.

Setelah kemenangan tersebut, Luiz Aragones di gantikan oleh Vincente del Bosque, bawah asuhannya, tiki-taka mengalami beberapa perubahan di mana penguasaan bola di utamakan, namun dengan tempo yang lambat. Vicente del Bosque terinspirasi dari taktik yang di terapkan Barcelona di bawah asuhan Pep Guardiola dimana mampu memenangkan sixtupple atau memenangkan 6 piala dalam satu musim, tentu sangat luar biasa. Hasilnya pun berakhir manis, dimana spanyol keluar sebagai juara Piala Dunia tahun 2010 dan piala Eropa tahun 2012.

Kefektivitasan taktik ini terletak pada penguasaan bola yang menjadi tumpuan utama, Vicente deq Bosque menyadari dengan menggunakan tempo yang lambat, kita dapat menunggu pemain lawan untuk maju ke area bertahan tim nasional Spanyol, lalu dengan hal tersebut, Spanyol dapat menyerang lawan dengan operan pendek yang akurat dan akhirnya mampu membobol pertahanan lawan.

Di era Julen Lopitigue taktik ini mengalami beberapa inovasi dimana spanyol membiarkan lawan untuk terus bergerak ke area pertahanan, kemudia setelah itu Spanyol akan menyerang dengan menggunakan full back kiri dan full back kanan serta striker yang menuggu di depan, dengan takik ini Spanyol masih mampu untuk memenangkan beberapa laga namun tidak kuat untuk memenagkan kompetisi.

Lalu pada era Luiz Enrique taktik tiki-taka mulai kembali pada taktik pada tahun 2008 era pelatih Luiz Aragones, dimana penguasaan bola tetap menjadi tumpuan utama, namun Luiz Enrique tidak menunggu pemain lawan untuk menyerang sampai kotak pinalti, baginya itu terlalu bahaya ketika ada kesalahan satu orang pemain, oleh karena itu Luiz Enrique mengedepankan taktik tiki-taka direcr, atau pengusaaan bola dengan pergerakan bola yang cepat dari kaki ke kaki seperti halnya ketika ia melatih Barcelona.

Dengan demikian, berbagai inovasi tiki-taka sudah pernah di coba dan menuai beberapa hasil, namun tidak dapat di pungkiri bahwa tiki-taka adalah jalan untuk Spanyol melangkah dalam gelaran pertandingan Internasional dan merupakan ciri khas Spanyol dari waktu ke waktu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TUNTOR

Berita Favorit

Format Home Turnamen Diusulkan Oleh PSIS Untuk Ganti Liga 1 2020

Melihat keadaan Indonesia yang tidak kunjung membaik dari serangan pandemi virus corona menyebabkan banyak kekhawatiran dan kebingungan atas nasib Liga 1 musim...

Conor McGregor “Saya Terima Tantangan UFC”

Superstar UFC Conor McGregor mengungkapkan bahwa dia siap dipanggil kembali ke UFC guna melawan Dustin "The Diamond" Poirier berikutnya, dan lelaki Irlandia...

Laga Terbaik Dua Team Epik Pada 16 September 1998

Tidak ada yang dapat membantah jika musim 1998/ 1999 ialah musim terbaik sejauh sejarah Manchester United. Disaat itu, mereka mencapai 3 gelar...

Frank Lampard : “Dia Layak Mendapatkan Kaos No.10”

Frank Lampard telah memuji Christian Pulisic karena berjuang untuk mendapatkan kemeja nomor 10 Chelsea. Pulisic menembakkan 11 gol dan...